Jumat, 18 Februari 2011

Tugas Diskusi Kelompok

Hasil Diskusi Kelompok

Fenomena “cabut kuliah” atau lebih biasa disebut sebagai bolos merupakan fenomena klasik yang marak terjadi pada mahasiswa. Contoh kasus yang pernah terjadi adalah, seorang mahasiswa bolos pada salah satu mata kuliah. Terlihat biasa memang. Namun yang membedakan kasus ini dengan kasus bolos lainnya adalah, sang mahasiswa berani mengatakan ia bolos secara langsung kepada dosennya, padahal dosen masih memberikan keringanan waktu baginya untuk bisa masuk kuliah.
Mencoba menelaah kasus ini, maka kami akan melakukan pendekatan tendensius lewat perspektif Pendidikan Orang Dewasa (POD). Suprijanto (2007) mengatakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar, yaitu:
Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik. Faktor internal ini masih dibagi lagi dalam dua faktor yaitu :
  1. Faktor fisik. Mencakup ciri-ciri pribadi seperti umur, pendengaran, penglihatan, dan lain-lain (Lunandi, 1982).
  2. Faktor nonfisik. Mencakup tingkat aspirasi, bakat, potensi, dan lain-lain (Mardikato, 1993).
Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri peserta didik atau lingkungan. Faktor ini masih dibagi lagi dalam dua faktor yaitu :
  1. Faktor fisik. Seperti keadaan ruangan, perlengkapan belajar, dan lain-lain.
  2. Faktor nonfisik. Seperti dorongan dari keluarga dan teman.
Faktor-faktor diatas bukan hanya tercakup dalam kegiatan belajar pada orang dewasa, namun juga terkait dengan bagaimana seseorang berperilaku ataupun bertindak. Sesuai dengan kasus yang menjadi fokus kami diatas, faktor yang cukup berpotensi menyebabkan terjadi tindakan diatas adalah faktor internal non-fisik. Faktor internal non-fisik yang terdiri dari motivasi, minat, potensi, dan sebagainya tersebut mempunyai pengaruh yang cukup krusial.
Mahasiswa yang termasuk sebagai salah satu dalam kategori orang dewasa dalam kasus ini memiliki motivasi rendah dalam mengikuti kuliah. Hal ini tidak akan mungkin terjadi jika mahasiswa tersebut memiliki motivasi yang tinggi, apalagi jika sang dosen masih memberikan keringanan waktu baginya untuk masuk. Motivasi ternyata merupakan faktor internal yang cukup berpengaruh diri orang dewasa dalam mengikuti pembelajaran.
Masih dalam ranah internal, orang dewasa dituntut untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Kepercayaan diri yang rendah akan menginterferensi pembelajaran. Jika dikaitkan dalam kasus ini, mahasiswa memiliki rasa percaya diri yang tidak memadai, karena merasa tidak pantas masuk kedalam kelas dalam keadaan terlambat, padahal sekali lagi, dosen masih memberikan toleransi waktu.
Tidak terlalu menganggap pembelajaran sebagai sesuatu hal yang signifikan juga mempunyai pengaruh yang besar. Arti pendidikan dimata seorang mahasiswa itu memiliki nilai/harga. Jika nilai pendidikan itu rendah, maka motivasi ataupun minat mahasiswa dalam belajar juga rendah.
Mahasiswa adalah kaum idealis. Idealisme yang melekat pada diri mahasiswa harus dipupuk dan dikembangkan, karena akan membawa semangat perubahan pada diri mahasiswa. Yusnadi (200-) mengatakan kaum idealis merasa dapat mencerna pengetahuan melalui banyak cara selain dengan pendekatan metode ilmiah. Dalam kasus ini idelisme juga mempunyai potensi berpengaruh dalam diri mahasiswa. Mereka merasa pembelajaran dapat dilakukan tidak hanya melalui tatap muka dengan dosen.
Pendekatan yang kami gunakan dalam menelaah kasus ini adalah pendekatan perwujudan diri sendiri (self-actualization approach). Dalam pendekatan ini kami berfokus pada salah satu ciri yaitu proses yang berpusat pada pebelajar. Rogers (dalam Yusnadi, 200-) menjelaskan perwujudan diri dimulai dari suatu kepercayaan yang kuat akan kemampuan individu, untuk menata kehidupannya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kepercayaan diri adalah faktor yang berpengaruh dalam diri individu. Dengan kepercayaan diri yang kuat, seseorang akan memiliki motivasi yang kuat pula dalam mengikuti pendidikan. Asumsi yang mendasari adalah, kesempatan-kesempatan untuk penemuan diri sendiri (self-discovery) dapat mengembangkan kemampuan diri sendiri (Yusnadi, 200-). Mereka harus menemukan dalam diri mereka sendiri makna dari belajar itu. Terkait dengan mahasiswa dalam kasus ini, mereka harus menemukan dalam diri mereka sendiri makna pendidikan, apa tujuan awal mereka sebenarnya mengambil matakuliah. Karena dengan begitu, mereka tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan awal mereka tersebut.
Referensi
  • Suprijanto, H. (2007). Pendidikan Orang Dewasa; dari teori hingga aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Yusnadi, (200-). Andragogi, Pendidikan Orang Dewasa. Medan: Unimed Press.
Oleh : Kelompok IV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar